Rabu, 22 Oktober 2008

Fenomena "Bimbingan Belajar", Home Learning tak mau ketinggalan

Didunia pendidikan saat ini khususnya di Indonesia memang telah mengalami perubahan yang cukup signifikan dari berbagai segi, baik kualitas maupun kuantitas pendidikannya maupun subtansial pendidikan itu sendiri. Jumlah penduduk terbesar kelima didunia, membuat indonesia harus ekstra keras dalam mengurusi tingginya jumlah peserta didik yang terus meningkat dari tahun ketahun seiring dengan bertambahnya jumlah penduduk indonesia.

Kebutuhan pendidikan saat ini memang dianggap sangatlah penting, mengingat kemajuan informasi dan teknologi yang semakin tak terbendung. Hal ini sekiranya telah menyadarkan dan mendorong bangsa ini untuk belajar dari bangsa lain, agar kita tidak ketinggalan. Pendidikan sangat diperlukan untuk mengangkat bangsa ini dari kemerosotan mental dan kebodohan. Peranan pendidikan memang tidak bisa dipungkiri akan membawa dampak yang luarbiasa bagi bangsa yang menghargainya.
Perkembangan pendidikan telah mendorong banyak fenomena unik dikalangan masyarakat kita. salah satunya adalah munculnya lembaga-lembaga pendidikan diluar sekolah seperti bimbingan belajar dan lembaga pelatihan.
Khususnya di Jakarta, kehadiran pusat-pusat bimbingan belajar sangat membantu para guru, orangtua dan murid. Memang kalau kita bandingkan dengan daerah-daerah lain, Jakarta memang memiliki jumlah peserta didik yang paling banyak. Hal inilah yang mendorong munculnya lembaga-lembaga kursus dan bimbingan belajar.
Selain para guru merasa terbantu dengan hadirnya begitu banyak lembaga kursus dan bimbingan belajar, kekhawatiran dari beberapa pihak muncul. Kehadiran lembaga-lembaga kursus dan bimbingan belajar yang tak terbendung ditakutkan membawa dampak negatif bagi pendidikan itu sendiri.
Pertama, banyaknya lembaga kursus dan bimbingan belajar yang ada akan mengurangi eksistensi dan tujuan dari kehadiran lembaga kursus dan bimbingan belajar tersebut. Dengan ketatnya persaingan antara lembaga kursus dan bimbel dalam mengumpulkan sebanyak mungkin peserta didik tidak menutup kemungkinan akan mengaburkan bahkan menghilangkan tujuan awal dari pendidikan yaitu mencerdaskan anak bangsa.
Kedua, sebagian besar dari lembaga kursus bimbingan belajar yang ada, lebih mengutamakan pencapaian hasil belajar peserta didik tanpa memperhatikan bagaimana cara pencapaian hasil belajar tersebut, apakah caranya baik atau tidak. Intinya, bahwa lembaga kursus dan bimbel hanya memfokuskan pada hasil bukan proses.

Ditengah fenomena hadirnya lembaga kursus dan bimbingan belajar, ada satu gejala lagi yang muncul menghiasi dunia pendidikan kita. Home schooling atau biasa disebut juga home learning. Home learning memang tidak asing lagi ditelinga kita. Bahkan banyak orangtua memilih menggunakan jasa home learning untuk anak-anaknya. Alasannya simpel, agar anaknya lebih konsentrasi dan fokus pada pelajaran yang diajarkan.

Terlepas dari hadirnya berbagai macam lembaga-lembaga pendidikan yang membawa misi peningkatan pendidikan di Indonesia, kita hanya bisa berharap semoga pendidikan kita akan lebih baik dan bisa dibanggakan. Semoga akan semakin banyak juara-juara olympiade yang muncul dari tanah pertiwi kita ini, agar bisa membawa nama bangsa, agar tidak dipandang sebelah mata oleh bangsa-bangsa lain di dunia.

Jaya Pendidikan.




Selasa, 21 Oktober 2008

Orang indonesia kurang menghargai ilmu

Jika kita bandingkan dengan negara-negara berkembang lainnya, kita sebagai bangsa Indonesia sepatutnya malu pada diri kita sendiri. Mengapa tidak? ilmuan-ilmuan kita menganggur, ilmuan-ilmuan kita hidupnya pas-pasan, bahkan banyak orang-orang jenius dari bangsa ini harus hidup dibawah garis kemiskinan. Kalaupun ada yang berhasil, mungkin hanya sebagian kecil, itupun dengan harus mengadu nasib diluar negeri dengan menggadaikan kecerdasannya untuk kepentingan bangsa lain.
Lalu kurang apakah bangsa ini, sehingga orang-orang jenius ciptaan bumi pertiwi harus merantau jauh hanya untuk mencari hidup yang lebih layak!!!
Kita bangsa indonesia, saat ini belum bisa menghargai ilmu. Kita hanya terus terpaku pada masalah "kemiskinan". Bagaimana saya bisa makan hari ini? dan makan apa saya hari ini?? mungkin kalimat-kalimat itu saja yang terus dibicarakan bangsa ini.
Tapi pernahkah bangsa ini berpikir, mencari ilmu tidak akan menjadikan bangsa ini miskin. Menuntut ilmu tidak akan menjadikan diri manusia miskin. Karena miskin adalah milik orang-orang yang mau "BERILMU".